#GejayanMemanggil: Rektor dan Mahasiswa se-Riau Masih Kena ISPA

#GejayanMemanggil Riau rektor dan mahasiswa masih kena ispa

Asap, Senin pagi masih tebal disertai partikel beracun. Alat pengukur menunjukkan kualitas udara dalam keadaan bahaya. Saya tengah mengurung diri di kamar indekos, mending di kamar saja rebahan, sedikit pusing dan sesak.

Kabar baiknya, sore hari hujan turun di beberapa tempat. Pengukur tanda bahaya menurun, sudah lebih baik.

Beranda Twitter sejak malam menggaungkan #GejayanMemanggil. Tak peduli sebenarnya, tapi masih jadi topik pembicaraan hingga pagi. Syahdan, saya mulai mencari tahu apa sebenarnya yang direncanakan.

Oh, rupanya Dewan Perwakilan Rakyat akan sidang paripurna untuk mengesahkan beberapa rancangan undang-undang penting. Seperti Rancangan Permasyarakatan, Pesantren, Pertanian dan lain-lain. Pembahasan RKUHP sudah ditunda lebih dulu oleh Presiden Jokowi.

Tuntutannya ada tujuh poin: mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang terhadap pasal-pasal bermasalah dalam RKUHP, mendesak Pemerintah dan DPR untuk merevisi UU KPK yang baru saja disahkan dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Kemudian, menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elit-elit yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia, menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada pekerja, menolak pasal-pasal problematis dalam RUU Pertanahan yang merupakan bentuk penghianatan terhadap semangat reforma agraria, mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan mendorong proses demokratisasi di Indonesia serta menghentikan penangkapan aktivis di berbagai sektor.

Mengutip poster aksi massa, Dewan Penghianat Rakyat tersebut akan melaksanakan niatannya di Gedung Senayan—yang sejak Senin pagi sudah digladi resik oleh ratusan mahasiswa.    

Gejayan—salah satu daerah di Yogyakarta—merupakan salah satu saksi sejarah perlawanan rakyat terhadap Orde Baru. Dari laporan yang dihimpun Tirto.id, Jalan Gejayan sekarang dengan nama Jalan Affandi menyambung berbagai kampus utama di Yogyakarta seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma dan Universitas Atma Jaya. Bisa juga diakses dengan mudah oleh kampus-kampus lain.

Masa itu, gabungan mahasiswa memprotes Orde Baru, keprihatinan atas kondisi perekonomian negara, penolakan Soeharto sebagai presiden kembali, memprotes kenaikan harga-harga, serta mendesak segera dilakukan reformasi.

Jumat kelabu, puncak kericuhan terjadi ketika massa dari Jalan Gejayan hendak bergabung dengan massa yang lain di Bundaran UGM, tapi dihalangin polisi. Panser penyemprot air dan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa. Moses Gatotkaca, mahasiswa Universitas Sanata Darma bersimbah darah diduga terkena pukulan benda tumpul. Belakangan namanya diabadikan sebagai nama jalan di selatan kampusnya.

Dengan semangat itu, #GejayanMemanggil kembali. Aliansi-aliansi masyarakat dibangun dengan cepat.

Ananda S Badudu—yang sempat duo dengan Rara Sekar merilis album Banda Neiranya meminta dukungan dana publik. Ia buat kampanye melalui kitabisa.com untuk mendanai gerakan perlawanan rakyat pada 23-24 September, targetnya Rp 50 juta, tapi dalam sehari hampir tercapai.

Yang patah tumbuh, yang hilang demokrasi­­—poster yang dipegang massa aksi.

Gerakan massif di media sosial tentu juga dapat perlawanan. Akun yang kontra menuding gerakan ini ditunggangi pro khilafah, eks HTI dan lain-lain. Lalu, Ismail Fahmi dengan aplikasi Done Empritnya mendeteksi gerakan #GejayanMemanggil adalah buatan baru yang tidak ada kaitannya dengan tudingan tersebut.

Aksi dilakukan hingga Selasa, selagi anggota dewan sedang sidang paripurna.

Tapi bodo amat, Riau masih dikepung asap. Tetangga sebelah, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara terakhir Aceh juga merasakan hal yang sama. Titik api yang muncul di beberapa tempat.

Saya mengabari kakak yang sedang hamil tujuh bulan di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara untuk memakai masker dan sebaiknya di rumah saja. Asap ini mengandung partikel yang berbahaya khususnya bagi anak kecil, ibu hamil, lansia dan punya riwayat asma.

#GejayanMemanggil Riau?

Kami masih kena ISPA, begitu juga rektor dan mahasiswanya.

Jangankan ikut aksi #GejayanMemanggil, masih soal menuntut Gubernur Riau memadamkan kebakaran hutan dan lahan, Rektor UNRI dan UIN Suska sudah bersurat.

Rektor UNRI meminta maaf ke Kapolda Riau atas aksi ‘G17S’ yang berakhir dorong-dorongan di pintu gerbang Mapolda. Begitu juga Rektor UIN Suska  akan mengevaluasi mahasiswa yang ikut demo. Belakangan bilang tidak akan disanksi mahasiswa yang ikut aksi tersebut.  

Tapi Bapak tidak sendirian, kampus lainnya seperti UGM, Universitas Sanata Darma, Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Atma Jaya memilih tak ikut terlibat.

Berbeda dengan Universitas Islam Indonesia. Dengan Surat Edaran, Rektor bilang UII mendorong civitas akademika peduli dengan permasalahan bangsa dan berikhtiar menyuarakan aspirasi melalui beragam kanal yang konstitusional. Tidak melarang mahasiswa ikut aksi damai asal sejalan dengan visi misi kampus. Ia juga mempercayakan kepada DPM dan LEM UII sebagai penanggung jawab dan kordinator pengawalan aksi.

Atau dengan kampus UNISBA jadi tempat menampung massa yang terluka setelah aksi di DPRD Jawa Tengah.

Baik mahasiswa maupun akademisi Riau belum banyak bersuara terkait rancangan peraturan ngawur yang sekiranya buru-buru disahkan oleh DPR jelang habis masa jabatan. Pasal-pasal dalam RKHUP, revisi UU KPK lewat begitu saja.

Barangkali mengingatkan kembali, Hattrick Gubernur Riau ditangkap KPK. Riau juga termasuk zona merah pemberantasan korupsi di Indonesia. Berarti keberadaan komisi anti rasuah itu sangat penting di Riau dalam hal pemberantasan korupsi. Sehingga revisi UU KPK perlu menjadi perhatian serius agar penegakan hukum tetap berlanjut.

Aksi #GejayanMemanggil juga berisi tuntutan mengusut dan mengadili elit-elit yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia.

Artinya, Riau yang mengalami Karhutla jelas menjadi objek tuntutan massa. Ini adalah isu lokal yang sudah dibawa ke ranah nasional. Tapi kita tak siap menyambutnya.

Saya sempat menulis ini  Ribut-ribut KPAI vs PB DJarum yang Tidak Ada Apa-apanya dibanding Asap di Riau, lantaran orang nasional meributkan KPAI yang meminta PB DJarum menghentikan audisi atlet bulu tangkis, tapi luput kondisi di Riau sudah parah.

Kali ini saya balikkan lagi, peduli kah kita terhadap isu nasional yang sedang diperjuangkan bersama?

Alerta alerta. #GejayanMemanggil: Riau.#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *