Jangan Takut Tegur Perokok Ketika Asapnya Merugikanmu

Rokok

Tadi malam aku dan seorang teman duduk di depan sebuah swalayan. Berbicara ringan terkait gebetan sendiri hingga pacar orang.

Lagi asik ngobrol, tiba-tiba sekumpulan asap rokok datang dari belakang. Asap itu terbang bebas ke arahku. Seakan ingin menyapa dan ucap Hai pada hidungku. Yah sedikit lebay tak apalah ya?

Aku yang mudah sesak nafas, seketika langsung menoleh ke arahnya. Belum sempat menegur, cewek yang berada di samping cowok merokok itu paham melihatku yang terus memegang hidung dan langsung menegur kekasih tercintanya tersebut.

Tak sampai disitu saja. Dengan suara tinggi, aku katakan sama temanku kalau aku kesal sama perokok. Sebab aku mudah sesak nafas ketika terhirup asapnya. Ini agar perokok itu mendengar.

Rencana berhasil. Setelahnya tak ada asap rokok menghampiri. Entah ia berhenti merokok atau asap rokoknya ia telan, aku tak peduli. Aku tak menoleh juga ke arah pria itu lagi.

Aku memang selalu kesal sama perokok yang tak bisa mengkondisikan asap rokoknya sendiri. Seenaknya saja menghembuskan asap itu tanpa memikirkan apa itu merugikan orang sekitar atau tidak.

Kekesalanku bertambah, ketika teman yang duduk bersamaku malam itu cerita bahwa ia pernah menahan diri menghirup asap rokok saat duduk bersama gebetannya.

Ceritanya begini. Ia dan gebetannya malam itu duduk di sebuah tempat tongkrongan. Tempat tersebut menyediakan dua tempat. Satu dalam ruangan khusus yang tak perokok dan satunya luar ruangan untuk perokok.

Mengetahui gebetannya merokok, ia merelakan diri duduk di luar ruangan. Ini juga karena gebetannya itu tak tahan jika tak merokok dalam waktu lama.

Ia sebut malam itu matanya hingga memerah karena asap.

Luar biasa temanku itu. Tahan mati demi cinta dan gebetannya. Meski ia katakan beberapa saat kemudian, mereka masuk ke dalam ruangan, ia tak memikirkan berapa banyak zat racun yang sudah masuk ke tubuhnya.

Hal seperti ini sering terjadi. Aku juga pernah mendengar cerita seorang narasumber yang kebetulan memegang jabatan cukup penting di salah satu instansi pemerintah yang ada di Kabupaten Siak. 

Ceritanya waktu itu aku dan seorang kru dari media lain, pergi ke Siak untuk liputan. Dari beberapa narasumber yang kami jumpai, satu diantaranya sedang sakit dan sedang dalam perawatan rutin.

Saat ngobrol, ia bercerita terserang penyakit paru-paru yang sudah akut. Dokter menyebutkan penyakitnya merupakan penyakit yang biasanya menyerang perokok pasif.

Perokok pasif artinya mereka yang tidak merokok, tetapi sering menghirup asap rokok dari orang-orang di sekitarnya yang merupakan perokok aktif. Tak perlu aku sebutkan seberapa bahaya menjadi perokok pasif. Ini sudah menjadi pengetahuan umum dan banyak artikel yang sudah membahasnya. Yang jelas,dari semua artikel itu, aku simpulkan rokok lebih berbahaya bagi perokok pasif daripada perokok aktif.

Kembali ke cerita narasumber saya tadi. Ia sudah menjadi perokok pasif sejak masih kuliah. Bagaimana tidak, sejak kuliah ia berteman dengan lingkungan perokok. Bahkan di indekos tempat ia tinggal semasa kuliah, mayoritas perokok. Ia tak pernah menegur. Karena takut akan menyinggung perasaan temannya.

Hingga di lingkungan kerja, ia juga mendapati teman kerja yang juga merokok. Saat rapat atau diskusi, ia terpaksa menahan diri menghirup asap rokok sebab segan menegur rekan kerjanya.

Alhasil, sekarang ia menanggung akibatnya. Ia harus rutin setiap bulan pergi ke Malaka untuk melakukan pemeriksaan.

Saat kami bertemu dengannya, kondisinya terlihat lemah. Mata sayu, gerak pelan, bicara datar hingga senyum tipis saat bergurau denganku. Kami berbicara tepat di hari ia akan berangkat ke Malaka untuk lakukan pemeriksaan.

Aku salut dengan orang-orang baik yang menoleransi perokok di dekatnya. Aku juga salut dengan para perokok yang seenaknya menghembus asap tanpa melihat sekelilingnya.

Para perokok pasti kesal ketika ada yang membuat gerakan hentikan rokok, naikkan harga rokok atau gerakan lainnya yang menentang beredarnya rokok. Gerakan itu datang pasti tanpa alasan. Aku yakin tak akan ada yang mempermasalahkan rokok, jika dilakukan sesuai pada tempatnya.

Toleransi itu yang diperlukan. Jika saja para perokok menyadari bahwa rokoknya berbahaya bagi perokok pasif, terutama bagi wanita dan anak-anak, kemudian menghindari merokok di tempat umum, mungkin para perokok aktif dan perokok pasif akan bisa hidup damai.

Tak perlu ada singgung menyinggung di antara kita. Karena perokok pasif juga tak akan bisa memaksakan keinginannya melarang perokok aktif berhenti. Sedangkan perokok pasif pun punya hak atas kesehatannya. Yang paling penting, tetap pertahankan hak kamu untuk tetap sehat. Hilangkan rasa segan ketika hal itu merugikanmu. Pada tulisan aku selanjutnya, akan memaparkan cara agar orang sekitar Anda tidak beranimerokok di dekat Anda.#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *