Mengulik Kisah Ibu 5 Anak dalam Membagi Waktu antara Karir dan Keluarga

wanita karir dan Ibu rumah tangga

Hari itu aku kerumah Hayati. Ia merupakan seorang guru Sekolah Dasar (SD) sekaligus ibu dengan lima orang anak. Aku mengagumi sosoknya yang pandai membagi waktu dalam karir dan perannya sebagai ibu rumah tangga. Kepandaiannya itu menimbulkan pertanyaan dipikiranku

Apakah kelak bisa aku seperti dia?

Di umur dewasa, kita tentu sering dihadapi dengan beberapa pilihan. Kelak ketika sudah menikah, ingin menjadi wanita karir, ibu rumah tangga, atau menjadi keduanya.

Aku juga begitu. Apalagi setelah memasuki umur 25 tahun ini. Pertanyaan itu begitu menghantui. Sama menghantuinya dengan pertanyaan kapan menikah.

Beberapa resiko dari pilihan itu berputar dipikiranku.

Pertama, jika memilih menjadi ibu rumah tangga. Tentunya hal baik pertama anak akan mendapat perhatian lebih banyak. Rumah akan rapi karena kita punya banyak waktu untuk membersihkan (kalau tidak malas pulak).

Aku akan menjadi istri yang selalu menunggu kepulangan suami dan anak di rumah. sehari-hari kerjanya memenuhi kebutuhan suami dan anak. Menyiapkan baju dan makan untuk mereka. Hari-hari dihabiskan dirumah.

Meski begitu, hal buruk juga terlintas dipikiranku jika memilih menjadi ibu rumah tangga. Pertama, aku akan merasa bosan karena kegiatanku itu-itu saja. Kedua jarang bertemu dan diskusi dengan orang-orang diluar sana. Terutama kalau dapat suami posesif.

Hal buruk lainnya yang aku pikirkan jika menjadi ibu rumah tangga yaitu tidak adanya penghasilan. Walaupun gaji suami cukup atau bahkan lebih untuk memenuhi kehidupanku, tetap saja aku takut.

Takut akan kelak suamiku tinggi hati karena merasa ia yang menghidupiku. Takut kelak suamiku tergoda dengan wanita lain dan memilih meninggalkanku. Takut menjadi orang yang akhirnya harus selalu mengalah meski tidak salah.

Ketakutan itu muncul bukan tanpa alasan. Banyak sekali kejadian-kejadian serupa aku temukan. Terutama di salah satu grup khusus curahan perempuan yang aku ikuti di facebook. Mayoritas mereka yang patah hati karena diduakan suami. Mereka tak berani meninggalkan suaminya hanya karena faktor ekonomi. Mereka takut jika harus membebankan orangtua lagi. Sehingga memilih harus bertahan meski menahan sakit hati setiap hari.

Ketakutan yang lebih dalam lagi aku rasakan ketika membaca sebuah akun instagram yang isinya merupakan curhatan lelaki. Tidak sedikit dari mereka curhat tentang rasa bosan terhadap wanita yang selama ini menghabiskan waktu bersamanya. Kemudian mereka minta saran ke netizen, bagaimana cara meninggalkan wanita dengan baik agar wanita itu tidak sakit hati.

Ini lelaki bodoh betul. Mana ada wanita yang tak sakit hati jika ditinggalkan dengan alasan bosan. Bagaimanapun cara ia mengungkapkan.

Parahnya lelaki ini minta pembelaan sama admin. Ia berdalih kalau perasaan tak bisa dipaksakan. Ia tak mau memaksakan diri untuk hidup lebih lama dengan wanita yang tak lagi dicintai. Astagfirullah. Mari bersama ibu Susi Pudjiastuti untuk tenggelamkan lelaki seperti ini.

Pilihan kedua menjadi wanita karir. Hal baik menjadi wanita karir pastinya bisa membantu suami menghidupi keluarga. Apalagi jika suami itu punya gaji pas-pasan. Setidaknya dengan aku bekerja, kami kelak punya tabungan lebih sehingga sekali-kali bisa makan pizza atau makan di restoran bakaran.

Selain faktor ekonomi, dengan bekerja, aku tetap bisa berkarir dan bekarya. Ilmu akan terus bertambah karena sering diskusi dengan teman kerja atau saat bertemu orang baru.

Hal buruknya, mungkin disebabkan karena waktu yang terbagi-bagi antara karir dan keluarga. Tak sepenuhnya perhatian tertuju ke suami dan anak. Takut jika nanti kecolongan anak menjadi nakal dengan alasan jarang mendapat perhatian orangtua.

Lagi-lagi ini juga menjadi ketakutanku. Aku tak ingin melahirkan generasi yang menjadi sampah masyarakat. Aku tak ingin nanti menjadi ibu yang jarang berikan edukasi terhadap anak. Aku takut jika terlalu asik bekerja, lupa ada anak yang butuh perhatian ibunya.

Kasus orangtua yang telantarkan anak juga tak sedikit. Mayoritas dari kasus itu juga terjadi kepada pasangan suami istri yang sama-sama bekerja. 

Pilihan terakhir menjadi menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Ini juga menjadi bahan pikiranku. Aku berfikir menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga itu berat. Jika dilakukan sekaligus, akan membahayakan pada kesehatanku. Setumpuk pekerjaan di lokasi kerja, ditambah lagi dengan pekerjaan rumah, akan mempersempit waktu istirahat. Bahkan mungkin aku tak sempat merawat diri sendiri.

Serba salah ya?

Pemikiranku mulai terbuka ketika dalam memperhatikan keseharian Hayati.

Eh, aku sampai lupa menceritakan sosok Hayati. Hayati hidup disebuah rumah bersama suami dan lima orang anak ditambah satu yang sedang dalam kandungan. Suami sehari-hari bekerja kadang di hutan, kadang di kebun, tergantung pekerjaan apa yang ada saat itu.

Anak yang tertua baru lulus SD tahun ini dan mondok di pesantren. Anak kedua dan ketiga masih duduk di SD. Anak ke empat sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) dan yang kelima sehari-hari dititipkan ke penitipan anak.

Meski memiliki banyak anak yang masih diusia bermain, jika kawan-kawan mengunjungi rumahnya, tak akan melihat satupun permainan berantakan. Bukan karena tak punya mainan, anak-anaknya sudah terdidik untuk membiasakan menyimpan mainan setelah selesai bermain. Bahkan yang masih TK, setidaknya pandai meleparkan mainan ke gudang penyimpanan setelah selesai bermain.

Tak hanya saat bermain, saat makanpun anak-anaknya rapi. Selesai makan, tak perlu menunggu sampai Hayati ceramah dulu, mereka dengan sendirinya pandai membersihkan sisa makanan yang berserakan di lantai kemudian meletakkan piring ke dapur.

Jika kawan-kawan mengunjungi rumah Hayati, dari depan hingga belakang halaman rumah, kawan-kawan tak akan menemui sampah yang berserakan atau rumput liar yang tumbuh subur.

Hayati tak punya pembantu. Hayati hanya cerdik dalam membagi waktu. 

Subuh hari Hayati dan suami sudah bangun. Wanita yang akrab dipanggil Anti ini memasak makanan untuk bekal anak-anaknya sekaligus untuk makan siang. Sedangkan suami bertugas mengantarkan anak-anak kesekolah.

Sepulang Anti dari mengajar, ia istirahat sebentar kemudian dilanjutkan dengan menyiapkan makanan untuk makan sore atau malam. Tergantung kebiasaan anak-anaknya.

Saat sore hari, Anti isi dengan menyapu halaman sambil bermain dengan anak-anaknya. Anaknya yang masih diusia aktif, senang jika disuruh memungut daun yang berserakan sambil lari-larian kesana kemari.

Di malam hari, anaknya ada yang belajar, ada yang menonton televisi dan ada yang main game di telepon genggam. Meski begitu, sekitar pukul sembilan malam rumahnya hening. Mereka sudah terlelap.

Selama mengenalnya, tak sekalipun aku mendengar Anti mengeluh akan kehidupannya. Tak pernah aku mendengar ia mengeluh menghadapi anak-anaknya. Sakitpun jarang menghampirinya. Asuransi kesehatan yang ia miliki bahkan belum pernah ia gunakan.

Hayati sosok wanita yang hebat. Hayati membuktikan wanita bisa sekuat dan setangguh itu.

Kisah Hayati bisa dijadikan contoh bagi aku dan mungkin juga kamu yang sedang alami ketakutan memasuki kehidupan bekeluarga nantinya.

Belajar dari sosok Hayati, semoga kita juga kelak menjadi wanita hebat dan kuat seperti dirinya ya? Amin.

Oh ya, berdasarkan perhitungan dokter, Hayati akan melahirkan anak ke enamnya awal bulan ini. Mari sama-sama kita doakan semoga persalinannya lancar dan mendapatkan anak yang sehat. #

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *