Review Film Joker : Berhasil Mendapatkan Respon Penonton

Review film joker

Rame-rame nonton Film Joker.

Saya dan teman di minda.id memutuskan untuk menonton film ini karena melihat review dari beberapa publik figur dan sineas Indonesia yang menurut kami mumpuni dibidangnya. Selain itu, beberapa media memberikan review bahwa film Joker layak ditonton untuk mengenal lebih dekat bagaimana problem yang dialami oleh mereka yang mengalami gangguan mental.

Selain review yang sudah bersliweran di internet ternyata Film Joker juga memberi pengaruh negatif bagi beberapa kalangan. Menguti dari media bbc.com, jelang pemutaran perdana Film Joker sudah menimbulkan banyak kontroversi bahkan menjadi persoalan bagi penegakan hukum di Amerika Serikat.

Hal tersebut berkaca pada kejadian tujuh tahun lalu, seorang pria melepaskan tembakan saat pemutaran sekuel film Batman, The Dark Night Rises di Kota Aurora bagian Coloradi. Bahkan, peristiwa tersebut menelan korban sebanyak 12 orang tewas dan 70 orang lainnya mengalami luka-luka.

Selain itu, keluarga korban meminta bioskop-bioskop untuk bekerja sama tidak menayangkan film Joker. Pihak keluarga korban juga melayangkan surat kepada Warmer Brother, produser film yang berada dibalik penayangan film itu. Mereka meminta perusahaan tersebut menyumbangkan dana kepada kelompok-kelompok yang membantu para korban kekerasan senjata.

Terlepas dari kontroversi diluar negeri, untuk Indonesia juga saling memberikan respon baik itu positif atau pun negatif. Ada yang memuji, dan ada juga yang tidak menyarankan untuk ditonton. Hal yang paling mengejutkan ialah bahkan beberapa orangtua menonton film Joker dengan anaknya. Jujur saja, saya pribadi kaget melihat cuitan-cuitan ini di twitter bahkan di portal berita. Heran campur rasa penasaran apa yang dipikirkan oleh orangtua yang mengajak anaknya itu? #ehjadiingatlaguapayangmerasukimu.

Pertama, film Joker diberi kategori rating R oleh AS dan di Indonesia masuk kategori 17 keatas. Jika saja tidak melihat detail keterangan film, nah tidak ada interaksi antara pembeli tiket dengan pramuniaga tiket bioskop? Yang bisa menjelaskan kalau film tersebut untuk kategori penonton usia berapa tahun. Oh iya lupa, kita kan suka sekali untuk melanggar aturan, bahkan menonton film action seperti Avenger saja bawa anak. #ups

Bukan hanya kategori usia 17 tahun keatas, namun ada hal lain yang perlu diperhatikan seperti sehat mental. Mengutip dari laman berita kompas.com, Psikolog Anak dari Pion Clinician—Astrid menyebutkan kalau film yang berdurasi 122 menit ini menyuguhkan kisah kelam, menyeramkan dan penuh emosi dalam bentuk visual. Film dengan jalan cerita seperti Joker, jika ditonton oleh orang dewasa saja bisa menimbulkan pengalaman dan makna yang berbeda. Film ini pun dapat menumbuhkan emosi negatif pada orang dewasa, salah satunya mengubah suasana hati seseorang usai menonton Joker. Ibaratnya, jika film punya suasana yang kelam, penonton setidaknya harus sehat mental.

Hal senada disebutkan menurut psikiater film Joker hanya untuk orang dewasa tertentu yang kuat secara mental dan mampu menghadapi dan menanggulangi masalah secara baik.

Dokter Kejiwaan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Heriani Sp.KJ(K) di Jakarta, menyebut film Joker bisa memicu ingatan orang yang pernah mengalami perundungan di masa lalu kembali muncul pada saat menontonnya. Hal tersebut karena film yang di Sutradarai oleh Tods Phillips bisa membuat penontonnya terbawa suasana dan merasakan secara nyata apa yang dialami oleh tokoh Joker si Arthur Fleck.

Film yang digarap oleh DC Comics ini juga mendapat kontra dari penonton. Mengutip dari portal berita tempo.co, menurut Andri—Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa di Rumah Sakit Omni Alam Sutera, Tangerang, ia mengaku kecewa. Hal ini karena, untuk kesekian kalinya film luar negeri menggambarkan pasien gangguan jiwa sebagai sosok yang negatif. Film Joker seolah-olah ingin menegaskan kembali bahwa orang dengan gangguan jiwa berat bisa melakukan kejahatan.

Menurut Andri, hal tersebut tidak benar dan melenceng dari kaidah kesehatan jiwa. Sebab dalam kasus Fleck, Andri mengatakan bahwa sosoknya seperti mengalami skizofrenia. Namun, dalam film bahwa orang yang mengidap skizofrenia pasti jahat. Seharusnya, skizofrenia justru ditandai dengan perilaku kekerasan. Ini pun bisa dibuktikan dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Schizophr Bull pada 2011. Bahwa pasien skizofrenia lebih rentan menjadi korban kekerasan, bahkan sampai 14 kali lipat.

Andri menegaskan, jika film Joker hanya dapat membawa citra buruk pasien gangguan jiwa. Saya cuma ingin mengatakan setelah menonton, kalau film Joker tidak berpihak pada pasien gangguan jiwa.

Mengulas sedikit tentang kualitas akting, saya setuju bahwa Joaquin Phoenix yang memerankan Arthur Fleck ini menyatu dalam karakter sehingga terasa sangat nyata bagi penonton. Ini memungkinkan penonton terbawa emosi dengan dukungan cerita yang mirip dari realita, setting dan latar musik yang sangat mendukung membuat kisah Joker melekat pada ingatan setelah menonton.

Meski ada pro dan kontra, film Joker masih memiliki banyak penonton. Dengan biaya produksi realistis, antara 55 hingga 70 juta dolar AS atau setara 770 hingga 980 miliar rupiah. Bahkan, film ini balik modal di akhir pekan pertama penayangan. Penghasilan Joker pada opening weekend mencapai 96 juta dolar AS atau setara dengan 1,34 triliun rupiah. Bisa dibilang, pada akhir pertama Joker telah meraup laba bersih 364 miliar rupiah. Angka ini terus membengkak pada pekan kedua. Pertanggal 16 Oktober Joker meraih pendapatan kotor 548juta dolar AS.

Jika hitungan balik modal tentu film ini sudah melewatinya. Ternyata penolakan penanyangan pada bioskop di Kota Aurora bagian Coloradi dan kontroversi yang mengikuti penayangan film ini mampu menarik minat penonton. Terlepas dari semua review yang sudah banyak menjelaskan tentang film Joker ini, menurut saya mereka berhasil untuk mendapatkan umpan balik. Ibarat berkomunikasi, ada pesan yang disampaikan untuk mendapatkan respon atau umpan balik. Respon yang beragam itu dipengaruhi oleh latar belakang dari setiap penontonnya. Seperti yang sudah disarankan oleh psikolog dan psikiater bahwa penonton yang disarankan adalah usia 17 tahun keatas dan kuat secara mental dalam artian mampu menanggulangi masalah dengan baik.

Melihat banyaknya respon tentang film Joker ini, saya jadi teringat pada buku Himawan Pratista. Pada halaman 3 disebutkan untuk mengukur memadai atau tidaknya sebuah pilihan tergantung kita sendiri sebagai penontonnya. Sineas menawarkan sebuah solusi melalui filmnya dengan harapan tentunya bisa diterima dengan baik oleh orang yang menonton. Melalui pengalaman mental dan budaya yang dimilikinya, penonton berperan aktif secara sadar maupun tidak sadar untuk memahami sebuah film. Keberhasilan seseorang dalam memahami film secara utuh sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tersebut terhadap aspek naratif serta aspek sinematik sebuah film. Kedua unsur tersebut apapun bentuknya pasti memiliki norma serta batasan yang bisa diukur. Jika sebuah film kita anggap buruk (kurang memadai) bisa jadi bukan karena film tersebut buruk namun karena kita sendiri yang masih belum mampu memahaminya secara utuh. Dalam buku ini juga dijelaskan kalau pilihan-pilihan seorang sineas dalam aspek naratif serta sinematik sangat tidak terbatas.#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *