SOWA Ingin Perempuan Lulusan Arsitektur Tetap Berprofesi Sebagai Arsitek

Perempuan arsitek

Belasan perempuan tengah memperhatikan Kertas A4 yang berisi gambar rancangan sebuah taman yang dipamerkan di sebuah kafe di kawasan Gobah. Rancangan itu merupakan tugas akhir karya Jahnavi Thakkar. Gambar-gambar yang dipamerkan itu merupakan bagian dari diskusi jarak jauh mengenai karyanya. Judul yang diangkat adalah Social Infrastructure for Resilient Cities.

Jahnavi merupakan lulusan Akademi Arsitektur Rachana Sansad, Mumbai, India. Tahun lalu, Ia menjadi pemenang ketiga FuturArc Design Competition Winner. FuturArc sendiri adalah majalah triwulan berfokus pada desain dan arsitektur hijau yang berbasis di Asia.

Dalam diskusi tersebut peserta mulanya melihat paparan video presentasi mengenai karyanya tersebut. Setelah itu diskusi tanya jawab dilakukan melalui teleconference dengan sang arsitek menggunakan aplikasi skype, langsung dari Mumbai, India.

Para anggota diskusi menanyakan langsung kepada Jahnavi dengan menggunakan bahasa inggris, sedangkan yang memiliki keterbatasan dalam bahasa inggris, percakapan dengan Jahnavi diterjemahkan oleh Dieni Nikmatika Ulya, lulusan Arsitektur Universitas Diponegoro yang mendirikan komunitas SOWA, komunitas yang membuat acara diskusi ini.

SOWA adalah singkatan dari School Of Woman Architecture. Komunitas ini merupakan sekolah arsitektur nonprofit khusus wanita yang berlokasi di Kota Pekanbaru.

Petugas Minda, Agus Alfinanda sempat berbincang-bincang dengan Dieni Nikmatika Ulya. Berikut petikannya.  

Bagaimana cerita awal komunitas ini terbentuk?

Komunitas ini terbentuk awalnya karena didasari melihat banyak lulusan arsitek yang perempuan banyak yang tidak berprofesi menjadi arsitek. Kultur kita kan patriarki ni, jadi banyak yang lulus tidak berprofesi sebagai arsitek. Tujuannya perempuan tetap berarsitektur, menambah jumlahnya juga. Misalnya pada kelas saya, dari empat puluh perempuan, hanya empat yang berprofesi sebagai arsitek, sisanya ibu rumah tangga dll. Apalagi kalau sudah berumah tangga tentu berhenti di situ.

Menurut Anda ada apa penyebabnya?

Lebih ke tekanan sosial sebenarnya, banyak pressure, kayaknya tidak terjadi pada arsitek saja, banyak juga kan profesi lain juga. Cuman kan, kita tidak seperti karyawan biasa. Arsitek kan banyak sertifikasi, seperti profesi lain, ada tingkatan-tingkatan, cuman ya sudah sulit, jadi makin sedikit yang berminat menjadi arsitek. Komunitas ini fokusnya yang pertama berbagi ilmu, kita berbagi support, kita mendukung perempuan tetap berarsitektur. Kita tetap dukung perempuan berkarya di dunia arsitektur.

Kapan komunitas ini terbentuk?

2 tahun lalu, 13 November 2017.

Fokus cakupan wilayah komunitas ini di mana?

Kita nggak ngebatasi wilayah ya, kebetulan komunitas adanya di sini (Pekanbaru) dan ketersediaan tutornya juga belum, tantangannya di situ, sekarang aja dua tutornya lagi absen, yang satu habis melahirkan, yang satu lagi hamil muda. Cuman infomasi antara Pekanbaru dan kota besar lainnya seperti Jakarta beda banget karena di sana informasi terus update.

Apa isu arsitektur yang diangkat di komunitas ini ?

Visi kita lebih ke arsitektur inklusif dan berkelanjutan. Inklusifnya menyeluruh, kalau di SOWA ni dieksplor menciptakan arsitektur yang dapat digunakan banyak orang, karena isu Suistanable Development Goals (SDGs) di Pekanbaru mungkin masih kurang, beda dengan kota-kota lain.

Dari mana sumber dananya ?

Kita sukarela aja, kita maunya komunitas aja, kalau dari segi bentuk lebih cocok ke cewek daripada organisasi, tantangannya di manajemen waktu, jadi kita sukarela aja. Di SOWA tidak ada ketua, jadi yang ada hanya koordinator aja, jadi siapa aja anggota yang punya usul kegiatan kita tampung.

Awal tanggapan dari orang yang diajak ?

Responnya cukup baik, apalagi ada kelas itu, ada sampai 30 orang pernah ikut kelasnya, ikut kegiatan pamerannya juga.

Bagaimana sampai bisa melakukan diskusi dengan Jahnavi?

Kalau jejaring secara aktif aja mencari arsitek wanita di luar sana. Kalau di Pekanbaru mungkin sedikit. Kita cari di luar untuk memotivasi arsitek-arsitek muda, ada arsitek perempuan yang berprestasi dan berkarir ternyata perempuan bisa juga lho. Walaupun sudah berkeluarga, perempuan punya hak yang sama, kemampuannya juga sama, biasanya kan kalau di lapangan arsitek perempuan suka diremehin tuh.

Bagaiamana cara bergabung dengan SOWA?

Caranya sebenarnya ada di blog, kalau mau gabung jadi anggota boleh, ikut kegiatan boleh, menjadi tutor juga boleh, selain akademis, ya non akdemis, artnya, dan itu tidak dapat ilmunya dari satu orang aja. Kita juga adain kelas autocad, sketchup, photoshop, desain, presentasi dan konsep. Kelas kita di luar kampus, kalau di luar kena biaya. Kita kasih gratis.

Sejauh ini kegiatannya atau diskusinya hanya di disiplin arsitektur saja?

Untuk sekarang masih, harusnya sih multidisiplin, yang tertarik bergabung atau menjadi tutor masih sedikit, tutornya juga baru dari sipil, arsitektur dan interior, tiga bidang ini masih. Kita pengen juga kolaborasi dari sosial, misal antropolog dan sosiolog yang ikut memberi materi. Kebetulan saya S2 bidang lingkungan, saya juga memberi materi SDGs di kelas, ini cukup penting karena salah satunya poinnya ada bangunan gedung. Sedikit unik, kita tidak ikut arus pembangunan, bangunan tidak hanya sekedar beton biasa, harus sinergi lingkungan, manusia, dampak ekonomi dan sosial budaya. Cuman kembali ke tujuan komunitas, kita berkumpul karena minat yang sama, kita syaratnya minat sama arsitektur dan sama-sama wanita.

Ada komentar negatif?

Komen-komen cewek Jakarta gak perlulah bikin kek gini, kenapa mesti melabel-label wanita, kenapa menyebut dirinya arsitek wanita. Soalnya gini, mungkin di Jakarta orang sudah lebih open minded ya, kita menyebut SOWA, kita bukan memisahkan ini laki-laki dan ini wanita, komunitas kita cuman karena kesamaan aja, sama-sama wanita yang minat arsitektur.

Ada juga komunitas serupa di Jakarta Ibu Arsitek, perempuan berarsitektur, bikin SOWAnya kita gak liat ada komunitas mereka, baru tahu aja ada komunitas serupa disana, malah lebih spesifik ibu-ibu, ini kenapa namanya sekolah karena kita sharing ilmu. Terserah orang mau bilang apa, yang penting kan tujuannya jelas. Mungkin komunitas ini bakal bubar kalau ndak ada anggotanya lagi, tetapi alhamdulillah masih ada.

Baca juga : Mengulik Kisah Ibu 5 Anak dalam Membagi Waktu antara Karir dan Keluarga

Terus dikira bikin kampus baru, sempat pengen ganti nama, tapi sudah melekat, akhirnya tutup kuping kiri tutup kuping kanan, sebatas itu. Pernah juga tutornya dianggap tidak layak, kalau kitanya tidak mempersilahkan itu, dia mau berbagi kemampuan atau apa yang dia tahu itu kita hargai itu. Sejauh ini ya, kita tanggapi saja dengan terima kasih masukannya, terimakasih sarannya. Kita terima masukannya. Kita kekurangan SDM, makanya kita adain diskusi seperti ini.

Apakah anggota SOWA yang telah lulus, memilih terjun dengan dunia arsitektur?

Sejauh ini anggota kita yang sudah bergabung, semuanya terjun ke dunia arsitektur, baru tiga orang sih yang lulus, selebihnya masih  status mahasiswa. Cuma kedepan kita makin berat karena sejak keluarnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek. Menurut UU Arsitek, lulusan arsitektur belum bisa dibilang arsitek, harus magang dua tahun, harus punya Sertifikat Keahlian, baru bisa jadi arsitek. Nah disitu target kita sih secara legal ndak cuman lulus S1 arsitek aja, kita ikut sosialisasi juga undang-undangnya.

Siapa mitra-mitra SOWA saat ini?

Kalau di Pekanbaru Creative Hub, Kopi Sensei, Kopikirapa. Ide mencari jaringan dari relasi. Kebetulan bertemu di suatu acara, kebetulan saya di Green Radio, jumpa relasi di sana juga.

Kenapa nama komunitasnya menggunakan bahasa inggris?

Targetnya mungkin di International, ada yang bernasib sama, yang patriarki bukan hanya di sini. Di Jepang juga begitu, kebetulan saya magangnya di Jepang, gak ada perempuan, cowok semua rata-rata, jarang perempuan. Kalaupun ada cewek, levelnya principal punya modal besar. Kemarin magang di Studio, dari 10 anggota saya yang sendiri perempuan, ada cewek cuman di bagian admin. kebetulan project pertama aku di asrama cowok di sekolah katolik. Di sana tekanan sosial cukup tinggi gak ada pembantu, gak ada nany, ibu jadi kebanyakan ibu mengurusi rumah tangga. Kita juga punya blog, buat report kegiatan kita. Di blog kita juga kita bikin postingan yang bahasa inggrisnya. Rencana bikin dua bahasa, kadang sempat translate, kadang gak sempet.

Rencana ke depan?

Kedepannya sih pengen bikin website seperti Coursera buat upload data, ya cuma dananya belum ada.#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *